Pendidikan

Hadapi Perkembangan AI, Perguruan Tinggi Diminta Cetak Talenta Kritis dan Inovatif

30 September 2026 6 hari lalu
Bagikan: f 𝕏 t

JAKARTA, GerbangBerita.com — Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mengubah kebutuhan kompetensi tenaga kerja. Perguruan tinggi di Indonesia dinilai perlu memperkuat kemampuan berpikir kritis, inovasi, serta kemampuan mengevaluasi hasil yang dihasilkan teknologi AI.

Hal itu disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie saat menjadi pembicara dalam High Level Talk bertajuk “Women & Talent: Mencetak Talenta Digital dan Ekspansi Ekonomi Berbasis Inovasi” pada Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia dan Indonesia Fintech Summit & Expo (FEKDI x IFSE) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Jumat (25/9/2026).

Stella mengatakan, kemampuan menggunakan AI saja tidak cukup. Talenta Indonesia juga harus mampu menilai apakah keluaran AI benar, efisien, dan memiliki kualitas yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Kalau kita ingin berkompetisi di dunia yang didominasi oleh AI ini, pendidikan tinggi Indonesia harus bisa menyesuaikan orang-orang yang mampu mengevaluasi AI,” ujar Stella.

Menurutnya, kemampuan berpikir kritis dan inovatif menjadi semakin penting seiring cepatnya perkembangan teknologi. Talenta juga dituntut mampu beradaptasi dengan perubahan yang terus berlangsung.

“Kemampuan untuk berinovasi, mengevaluasi AI, berpikir kritis itu menjadi yang lebih penting lagi. Dari dulu penting, sekarang lebih penting lagi,” katanya.

Selain penguatan kompetensi, Stella menilai riset di perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mendorong inovasi dan pertumbuhan ekonomi. Perguruan tinggi tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan, tetapi juga mengembangkan riset yang dapat berkontribusi terhadap kemajuan teknologi.

“Ini yang harus kita lakukan di Indonesia, riset di universitas. Economic growth juga menunjukkan hal tersebut, bahwa inovasi yang akan memimpin pertumbuhan,” ujarnya.

Stella juga mengingatkan bahwa perkembangan AI merupakan proses yang terus berubah. Karena itu, masyarakat perlu membangun kebiasaan untuk terus belajar dan menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi.

“Ketika kita berbicara mengenai AI dan teknologi tidak lepas, pada prinsip kita harus beradaptasi. Karena ini merupakan inovasi yang terus berubah, suka tidak suka kita harus mempelajarinya dan kita harus beradaptasi,” tegasnya.

Dalam forum yang sama, Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyoroti pentingnya mengubah bonus demografi Indonesia menjadi bonus kompetensi.

Menurut Destry, pemerintah, Bank Indonesia, dan berbagai pemangku kepentingan perlu memperkuat sinergi dalam menyiapkan generasi muda yang memiliki kompetensi dan mampu memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas.

Sementara itu, Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri menyampaikan pentingnya kemampuan beradaptasi dalam pemanfaatan teknologi, termasuk bagi pelaku usaha dan pedagang.

Dyah menyebut sekitar 6.870 pasar rakyat dan lebih dari 300.000 pedagang telah mendapatkan fasilitasi digital pada 2025. Fasilitasi tersebut antara lain mencakup sistem pembayaran daring dan pelatihan.

Ia juga memaparkan pengembangan InaExport yang diarahkan untuk menghubungkan pelaku usaha Indonesia dengan pasar internasional melalui jaringan perwakilan perdagangan Indonesia di berbagai negara.

Dari sektor industri, CEO Grab Indonesia Neneng Goenadi juga menilai kemampuan berpikir kritis semakin diperlukan di tengah meningkatnya penggunaan AI.

Menurut Neneng, pengguna teknologi perlu memeriksa kembali hasil analisis yang diberikan AI sebelum menjadikannya sebagai dasar pengambilan keputusan.

“Pertanyaannya adalah bagaimana penggunanya ini bisa menilai analisisnya benar atau tidak. Hence, critical thinking itu sangat diperlukan di universitas,” ujar Neneng.

Direktur Wahid Foundation Yenni Wahid menambahkan, pengembangan talenta digital perlu ditopang ekosistem yang membuka akses terhadap pembelajaran dan kesempatan berkembang bagi masyarakat.

Penguatan pendidikan, riset, inovasi, kemampuan berpikir kritis, serta ekosistem digital yang inklusif dinilai menjadi bagian penting dalam menyiapkan talenta Indonesia menghadapi perubahan teknologi sekaligus mendukung produktivitas dan pertumbuhan ekonomi.

Reporter: M Khairul Huda

Bagikan: f 𝕏 t

Berita Terbaru