Pendidikan

Mendiktisaintek Soroti Ketimpangan Ekonomi, Ajak Mahasiswa Berpikir Berbasis Data

9 Oktober 2026 32 menit lalu
Bagikan: f 𝕏 t

DEPOK, GerbangBerita.com — Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengajak mahasiswa memperkuat kemampuan berpikir analitis, kepemimpinan, dan keberanian mencari solusi atas persoalan Indonesia. Ia menekankan pentingnya penggunaan data untuk memahami masalah dan merumuskan langkah perbaikan.

Pesan tersebut disampaikan Brian dalam kegiatan Indonesia Future Leaders Summit (FLS) 2026 di Depok, Kamis (8/10/2026).

Dalam paparannya, Brian menyoroti pertumbuhan ekonomi Indonesia yang belum sepenuhnya diikuti peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ia menyebut produk domestik bruto (PDB) Indonesia naik dari sekitar US$1,02 triliun pada 2017 menjadi US$1,48 triliun pada 2024.

Namun, berdasarkan data Pusat Data Bank Dunia yang dirujuk dalam paparannya, jumlah penduduk miskin dan rentan miskin pada periode yang sama meningkat dari 46,1 juta menjadi 49,5 juta orang. Sementara itu, jumlah penduduk kelas menengah turun dari 22,1 juta menjadi 17,4 juta orang.

Brian juga menyoroti kenaikan kekayaan 10 orang terkaya yang disebut mencapai 153 persen. Menurut dia, indikator tersebut perlu menjadi bahan evaluasi untuk melihat sejauh mana pertumbuhan ekonomi memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Pertumbuhan ekonomi kita bagus, tapi kemudian angka kemiskinan naik dan penduduk kelas menengah menurun,” kata Brian.

Ia meminta mahasiswa tidak hanya menyampaikan pendapat, tetapi juga membangun argumentasi berdasarkan angka dan fakta. Kemampuan tersebut dinilai penting agar calon pemimpin mampu mengidentifikasi persoalan dan menentukan kontribusi yang dapat diberikan sesuai bidang masing-masing.

Brian mengatakan Indonesia memiliki sumber daya yang besar, tetapi pengelolaannya masih menjadi tantangan. Karena itu, mahasiswa didorong mengambil peran dalam mencari solusi, bukan sekadar melihat persoalan sebagai hambatan.

Perguruan Tinggi Didorong Perkuat Hilirisasi Riset

Dalam sesi diskusi, Brian menanggapi gagasan peserta mengenai hubungan antara persoalan daerah, penelitian, dan peran perguruan tinggi.

Menurut dia, kampus memiliki posisi strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan riset dan hilirisasi inovasi. Hubungan antara perguruan tinggi dan industri perlu diperkuat agar hasil penelitian dapat dikembangkan serta dimanfaatkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Brian juga menyebut sekitar 80 persen dari 50 klaster pertumbuhan ekonomi terbesar di dunia berada di sekitar perguruan tinggi. Data tersebut, menurut dia, menunjukkan pentingnya ekosistem pendidikan tinggi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi.

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) turut mendorong pengembangan pusat keunggulan atau center of excellence di berbagai wilayah Indonesia untuk memperkuat keterhubungan antara pendidikan tinggi, riset, inovasi, dan pembangunan daerah.

FLS 2026 Perkuat Kepemimpinan Mahasiswa

Brian mengingatkan mahasiswa bahwa perubahan suatu negara membutuhkan proses panjang. Ia mendorong generasi muda terus belajar, berkarya, dan tidak berhenti ketika menghadapi kegagalan.

Menurut dia, latar belakang dan kondisi seseorang saat ini tidak harus menjadi batas bagi masa depannya. Mahasiswa perlu menentukan bidang yang dapat mereka kontribusikan dan mulai melakukan perubahan dari lingkungan masing-masing.

FLS 2026 diselenggarakan Kemdiktisaintek sebagai bagian dari rangkaian Indonesia Future Leaders Camp (FLC), program pembelajaran dan regenerasi kepemimpinan bagi mahasiswa yang aktif dalam organisasi.

Pada 2025, FLC dilaksanakan di lima wilayah dengan melibatkan 295 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Melalui FLS 2026, peserta diharapkan dapat memperkuat kemampuan kepemimpinan, memperluas jejaring, dan menyampaikan hasil pembelajaran dari masing-masing wilayah.

Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Beny Bandanadjaja, mengatakan kegiatan tersebut menjadi kelanjutan proses pembelajaran kepemimpinan yang telah dimulai melalui FLC.

Menurut Beny, pembekalan, diskusi, kerja kelompok, dan pertukaran gagasan memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar sekaligus membangun jejaring lintas kampus dan wilayah.

Kemdiktisaintek berharap FLS 2026 dapat mendorong lahirnya generasi muda yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat serta mendukung pembangunan Indonesia menuju 2045.

Reporter : M Khairul Huda

Bagikan: f 𝕏 t

Berita Terbaru