Mendiktisaintek Soroti Mahasiswa STEM yang Baru 28 Persen, Penguatan Sains Didorong
BALI, GerbangBerita.com — Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menyoroti proporsi mahasiswa bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) di Indonesia yang masih sekitar 28 persen. Penguatan bidang tersebut dinilai penting untuk menghadapi perkembangan kecerdasan buatan (AI), komputasi kuantum, dan kebutuhan industri.
Hal itu disampaikan Brian dalam Konferensi Nasional Pendidikan Indonesia (KONASPI) ke-12 di Bali, Jumat (2/10/2026).
Brian menyebut Indonesia memiliki 34.711 program studi pada 2025, meningkat 2,9 persen. Jumlah mahasiswa mencapai 11,5 juta orang, didukung 328 ribu dosen, dengan 2,78 juta lulusan.
Dari total program studi tersebut, sebanyak 7.045 berada di bidang pendidikan dengan sekitar 3,13 juta mahasiswa. Namun, menurut Brian, besarnya jumlah mahasiswa dan program studi perlu diimbangi penguatan bidang keilmuan strategis.
Ia menilai perguruan tinggi perlu memperkuat sains fundamental sebagai dasar pengembangan teknologi dan inovasi. Pengembangan pendidikan tinggi, kata dia, seharusnya tidak hanya berfokus pada penambahan program studi, tetapi juga pada penguatan ilmu yang dipelajari.
“Yang perlu dikembangkan itu bukan prodinya, tapi keilmuannya,” ujar Brian.
Brian juga menyoroti peran perguruan tinggi kependidikan dalam mencetak guru inovatif. Guru perlu didorong mengembangkan metode pembelajaran yang mampu menarik minat siswa terhadap sains dan teknologi, termasuk bidang yang selama ini dianggap sulit.
Menurutnya, guru yang berhasil mengembangkan inovasi pembelajaran perlu mendapat stimulus agar praktik tersebut dapat dikembangkan dan mendorong minat belajar siswa.
Selain pembelajaran, Brian meminta perguruan tinggi memperkuat riset dan inovasi melalui kerja sama dengan industri. Pimpinan kampus diharapkan berinteraksi langsung dengan dunia usaha untuk memahami perkembangan teknologi serta kebutuhan tenaga kerja.
“Kita ingin pendidikan kita berdampak, kita ingin riset inovasi kita juga kuat, dan tentunya adalah bagaimana pengabdian-pengabdian juga bisa memberikan dampak yang besar,” katanya.
Brian turut menekankan pentingnya peningkatan kapasitas dosen dan jumlah profesor. Perguruan tinggi diharapkan memfasilitasi pengembangan karier akademik dosen untuk memperkuat kualitas pendidikan dan riset nasional.
Sementara itu, Rektor Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), I Wayan Lasmawan, mengatakan pendidikan berperan dalam membangun sumber daya manusia sekaligus membentuk karakter, seperti integritas, gotong royong, dan cinta tanah air.
Ia berharap KONASPI ke-12 dapat menjadi rujukan penyusunan kebijakan pendidikan berbasis bukti serta mendorong lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru melalui kolaborasi.
Penguatan pendidikan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat tersebut sejalan dengan semangat Diktisaintek Berdampak. Perguruan tinggi diharapkan menghasilkan inovasi yang menjawab kebutuhan masyarakat dan daerah sekaligus mendukung pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Reporter: M. Khairul Huda