12 Juta Data Baru BKKBN Sempat Bikin Desil Bansos Berubah, Kemensos Beri Penjelasan
JAKARTA, GerbangBerita.com – Perubahan desil dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) sempat membuat sebagian masyarakat khawatir bantuan sosial yang mereka terima akan terhenti. Kementerian Sosial memastikan perubahan desil tidak otomatis membuat seseorang kehilangan bansos.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengatakan perubahan yang cukup signifikan pada DTSEN Volume 3 telah dikoreksi melalui DTSEN Volume 3.1 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS).
Salah satu faktor yang memengaruhi perubahan tersebut adalah masuknya sekitar 12 juta data baru dari BKKBN. Gus Ipul mengatakan data tersebut ketika masuk belum dilakukan verifikasi dan validasi.
“Baru masuk 12 juta data baru dari BKKBN yang belum dilakukan verifikasi dan validasi. Sehingga loncat-loncat,” kata Gus Ipul di Jakarta, Kamis (3/9/2026) malam.
Setelah itu, pemerintah melakukan konsolidasi dan pemutakhiran data. Gus Ipul menyebut data tersebut kini sudah distabilkan dan dirapikan melalui proses verifikasi dan validasi.
Ia memperkirakan dalam satu hingga dua pekan ke depan akurasi data akan semakin baik.
Di tengah perubahan tersebut, muncul kekhawatiran di masyarakat bahwa kenaikan desil berarti penerima otomatis dicoret dari daftar penerima bantuan.
Gus Ipul menegaskan hal itu tidak berlaku secara otomatis.
“Tidak serta-merta orang yang sekarang desilnya berubah, itu otomatis dicoret bansosnya,” ujarnya.
Penetapan penerima bantuan sosial tetap mengikuti mekanisme dan persyaratan masing-masing program. Untuk Penerima Bantuan Iuran (PBI), misalnya, penetapan dilakukan secara berkala.
Tenaga Ahli Menteri Sosial Bidang Perencanaan dan Evaluasi Kebijakan Strategis Andy Kurniawan menjelaskan, desil bukan ukuran langsung untuk menentukan seseorang kaya atau miskin. Desil merupakan pemeringkatan relatif tingkat kesejahteraan penduduk secara nasional.
Penduduk diurutkan berdasarkan tingkat kesejahteraannya, kemudian dibagi menjadi 10 kelompok.
“Desil itu bukan sertifikat kaya dan miskin. Desil tidak bisa disamakan secara ekuivalen dengan penghasilan,” kata Andy.
Karena sifatnya relatif, posisi desil seseorang dapat berubah meskipun kondisi ekonominya tidak mengalami perubahan. Hal itu bisa terjadi karena kondisi masyarakat lain dalam pemeringkatan nasional ikut berubah.
Andy mencontohkan kondisi bencana yang menyebabkan banyak orang kehilangan penghasilan. Ketika pemeringkatan dilakukan kembali, posisi seseorang dalam desil bisa ikut berubah karena komposisi tingkat kesejahteraan masyarakat secara nasional juga berubah.
Menurut Andy, DTSEN dimutakhirkan setiap tiga bulan sehingga dalam setahun terdapat empat versi data. Masuknya sekitar 12 juta data baru dari BKKBN pada Volume 3 membuat perubahan posisi desil terasa lebih signifikan.
“12 juta data baru ini adalah sumber pemutakhiran di volume ketiga. Sumber pemutakhiran di volume ketiga ini menyebabkan naik turunnya desil terasa sangat signifikan,” ujarnya.
Andy menegaskan desil bukan satu-satunya dasar untuk menentukan penerima bansos. Desil digunakan sebagai salah satu pertimbangan dalam menentukan prioritas ketika jumlah masyarakat yang memenuhi syarat lebih banyak dibandingkan kuota bantuan yang tersedia.
Setiap program bantuan juga memiliki kriteria tersendiri. Seseorang yang masuk kelompok desil prioritas belum tentu menerima bantuan apabila tidak memenuhi persyaratan lain yang ditetapkan dalam program tersebut.
Karena itu, kenaikan desil tidak bisa langsung diartikan sebagai tanda seseorang menjadi lebih sejahtera atau otomatis kehilangan bantuan sosial.
BPS kemudian menerbitkan DTSEN Volume 3.1 untuk memperbaiki perubahan desil yang sebelumnya mengalami lonjakan signifikan.
Masyarakat yang merasa data sosial ekonominya belum sesuai dapat mengajukan pemutakhiran melalui pemerintah desa atau kelurahan dengan bantuan operator SIKS-NG. Pemutakhiran juga dapat dilakukan melalui pendamping PKH, BPS maupun pemerintah daerah.
Selain itu, masyarakat dapat mengajukan pemutakhiran data secara mandiri melalui aplikasi Cek Bansos.
Redaksi GerbangBerita.com