Pendidikan

Ditjen Risbang Dorong Pengembangan Sistem Pemeliharaan untuk Hidrogen Hijau

1 Oktober 2026 5 hari lalu
Bagikan: f 𝕏 t

BANDUNG, GerbangBerita.com — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong penguatan riset dan teknologi energi bersih melalui pengembangan Electrolyzer Condition Based Maintenance System (eCBMS) untuk mendukung operasional Green Hydrogen Plant di Indonesia.

Pengembangan tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Electrolyzer Condition Based Maintenance System (eCBMS) for Green Hydrogen Plants in Indonesia” di Bandung, 29 September 2026.

Kegiatan yang digelar Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang) itu melibatkan unsur pemerintah, industri, perguruan tinggi, operator, serta mitra internasional. FGD menjadi bagian dari kajian kelayakan awal atau pre-feasibility study (pre-FS) penerapan eCBMS pada fasilitas hidrogen hijau di Indonesia.

Sejumlah lembaga yang terlibat antara lain Kemdiktisaintek, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), PT PLN, Institut Teknologi Bandung (ITB), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta mitra dari Jepang dan sektor industri.

Pembahasan difokuskan pada kebutuhan kebijakan, tantangan operasional, sistem pemeliharaan, ketersediaan data, serta kesiapan penerapan eCBMS di Indonesia.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Fauzan Adziman mengatakan pengembangan teknologi hidrogen membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, industri, dan akademisi.

Menurut Fauzan, riset hidrogen tidak cukup berhenti pada pengembangan teknologi di sisi hulu, tetapi perlu dilanjutkan hingga tahap scale-up, implementasi, serta pengembangan teknologi pendukung.

Salah satu teknologi yang dikaji adalah sistem pemeliharaan berbasis kondisi atau condition based maintenance pada elektrolizer.

“Kami sangat mendukung yang akan dilakukan hari ini untuk mendukung terbentuknya pre-FS, khususnya eCBMS dengan aplikasi nanti di Indonesia,” ujar Fauzan.

Kolaborasi Indonesia-Jepang

Pengembangan teknologi hidrogen juga diarahkan melalui kerja sama Indonesia dengan Jepang, termasuk dengan New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO).

Kerja sama tersebut mencakup penguatan kapasitas riset, pengembangan teknologi, serta pemanfaatan kapasitas dan keunggulan masing-masing negara.

Fauzan menyebut Indonesia dan Jepang memiliki potensi untuk saling melengkapi dalam pengembangan teknologi dan ekosistem inovasi. Kolaborasi antara perusahaan Jepang, perusahaan Indonesia, perguruan tinggi, dan pemerintah diharapkan dapat mendukung pengembangan teknologi hidrogen serta penyimpanan energi.

Perguruan tinggi juga dinilai memiliki posisi penting dalam menghubungkan kebutuhan industri dengan pengembangan teknologi dan kerja sama riset internasional.

Melalui pendekatan Hub and Spoke dan berbagai skema kemitraan riset internasional, Kemdiktisaintek mendorong hasil penelitian tidak berhenti pada tahap akademik, tetapi dapat dikembangkan untuk menjawab kebutuhan industri dan masyarakat.

Pengembangan eCBMS menjadi salah satu bagian dari upaya memperkuat ekosistem riset dan inovasi Indonesia di sektor energi bersih, sekaligus mengkaji kesiapan teknologi pendukung bagi pengembangan Green Hydrogen Plant di dalam negeri.

Reporter : M Khairul Huda

Bagikan: f 𝕏 t

Berita Terbaru