Workshop Gaukang Karaeng Galesong Perkuat Pelestarian Warisan Budaya Makassar
TAKALAR, GerbangBerita – Workshop Gaukang Karaeng Galesong sukses digelar selama dua hari, 4–5 Agustus 2026, di Kompleks Balla Lompoa ri Galesong, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Kegiatan yang diikuti 40 peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, serta pegiat seni dan budaya ini bertujuan memperkuat pemahaman generasi muda terhadap sejarah dan warisan budaya Galesong.
Workshop tersebut merupakan bagian dari Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK) Tahun 2026 yang didukung Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Selatan bersama Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Program ini difokuskan pada upaya pelestarian, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan objek pemajuan kebudayaan agar tetap terjaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Kegiatan diprakarsai oleh Muh Ashar Arsad, S.Sos., sebagai penerima Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK) Tahun 2026 dari Kabupaten Takalar. Pembukaan workshop dihadiri Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Selatan, Pemangku Adat Karaeng Galesong, Camat Galesong, Kepala Desa Galesong Baru, serta sejumlah tokoh masyarakat dan pemerhati budaya.
Ketua pelaksana, Muh Ashar Arsad, mengatakan workshop tidak hanya menjadi kegiatan edukasi, tetapi juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal sejarah dan nilai budaya yang diwariskan para leluhur.
“Melalui workshop ini kami ingin menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap warisan budaya Galesong. Mereka diharapkan tidak hanya memahami sejarahnya, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk ikut menjaga dan melestarikannya,” ujarnya.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Selatan mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, pelestarian budaya tidak dapat dilakukan pemerintah semata, melainkan membutuhkan keterlibatan masyarakat, komunitas, dan generasi muda.
Ia menilai workshop seperti ini menjadi salah satu cara efektif memperkenalkan warisan budaya melalui pengalaman langsung di situs-situs bersejarah sehingga nilai sejarah dan budaya dapat terus diwariskan.
Selama kegiatan berlangsung, peserta diajak mengunjungi Bungung Barania ri Galesong, salah satu situs cagar budaya berupa sumur bersejarah yang diyakini pernah digunakan untuk memandikan prajurit Karaeng Galesong sebelum berangkat berperang melawan VOC melalui jalur laut menuju Pulau Jawa.
Selain itu, peserta juga mengunjungi Balla Lompoa ri Galesong, istana peninggalan Kerajaan Galesong yang hingga kini masih berdiri dan menjadi pusat pelaksanaan berbagai kegiatan adat, budaya, sejarah, serta pendidikan masyarakat Galesong.
Workshop juga menghadirkan tiga narasumber yang terdiri dari sejarawan Galesong, pemerhati budaya, dan tokoh adat Yayasan Karaeng Galesong. Para peserta memperoleh materi mengenai sejarah Kerajaan Galesong, nilai-nilai budaya lokal, serta pentingnya menjaga situs-situs budaya sebagai identitas masyarakat Makassar.
Pemangku Adat Karaeng Galesong menegaskan bahwa Gaukang bukan sekadar benda atau peninggalan sejarah, melainkan simbol kehormatan, persatuan, dan jati diri masyarakat Galesong yang harus terus dijaga.
Menurutnya, pelestarian budaya menjadi tanggung jawab bersama agar generasi mendatang tetap mengenal sejarah daerahnya dan tidak kehilangan identitas budaya di tengah perkembangan zaman.
Melalui rangkaian workshop ini, peserta tidak hanya memperoleh materi di dalam ruangan, tetapi juga pengalaman belajar langsung di kawasan bersejarah. Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kepedulian generasi muda terhadap pelestarian budaya sekaligus memperkuat kolaborasi antara pemerintah, lembaga adat, komunitas, dan masyarakat dalam memajukan kebudayaan Indonesia.
Reporter : Agus Yusuf