Kesehatan

Masih Muda Sudah Hipertensi? Dokter Tirta Ungkap Faktor Pemicu dan Cara Mencegahnya

22 Agustus 2026 2 bulan lalu
Bagikan: f 𝕏 t

JAKARTA, GerbangBerita.com – Hipertensi kini tidak lagi identik dengan penyakit pada usia lanjut. Tekanan darah tinggi juga semakin banyak ditemukan pada kelompok usia muda. Kondisi tersebut dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari riwayat keluarga, pola hidup tidak sehat, hingga tekanan psikologis yang berlangsung dalam jangka panjang.

Dokter sekaligus influencer kesehatan, Tirta Mandira Hudhi atau dr. Tirta, menjelaskan bahwa faktor genetik dan gaya hidup memiliki peran penting terhadap risiko hipertensi pada usia muda.

“Kenapa anak muda sering terkena hipertensi? Jawabannya adalah karena gaya hidup dan lifestyle, dan kedua karena genetik. Nah, lucunya, penyakit-penyakit kardiovaskular yang terkait dengan jantung dan tekanan darah, itu ada faktor genetik,” ujar dr. Tirta dalam unggahan video di akun Instagram-nya, dikutip Kamis (20/8/2026).

Menurutnya, masyarakat perlu memahami riwayat kesehatan keluarga. Jika terdapat anggota keluarga yang memiliki riwayat penyakit jantung, stroke, atau kondisi kardiovaskular lainnya, pemeriksaan kesehatan secara berkala penting dilakukan.

“Jadi dilihat, kalau kamu lihat bapak, ibumu, atau saudaramu, kakek-nenekmu ada riwayat meninggal dadakan karena penyakit jantung dan stroke, bisa jadi kamu juga harus check-up. Jadi yang pertama genetik,” tuturnya.

Tekanan Psikologis Bisa Memengaruhi Tekanan Darah

Selain faktor keturunan, dr. Tirta menyoroti tekanan psikologis yang dialami anak muda. Menurut dia, tekanan yang muncul sejak masa sekolah dan berlanjut hingga memasuki dunia kerja dapat memicu stres berkepanjangan.

Beban pendidikan, tuntutan pekerjaan, lembur, hingga tekanan sosial dinilai dapat meningkatkan tingkat stres. Kondisi tersebut berkaitan dengan peningkatan hormon kortisol yang dapat memengaruhi tekanan darah.

“Yang kedua karena gaya hidup. Pada anak muda ini kan tekanannya berat. Mereka terbiasa dengan konsentrasi karena dulu sekolah kita dari jam berapa? Jam 07.00 sampai jam 01.00. Jadi sudah capek sekolah, les, beban sekolah, dimarahin,” kata dr. Tirta.

Ia melanjutkan, tekanan tersebut dapat berlanjut ketika seseorang memasuki dunia kerja.

“Terus sampai kerja, dimarahin lagi, lembur lagi, belum standar sosial, itu akhirnya membuat gaya hidupnya menjadi tekanan psikologis kerja naik. Tekanan psikologis kerja naik, stres, itu akan meningkatkan risiko dari hipertensi, karena kortisolnya naik,” ujarnya.
Pola Hidup Tidak Sehat Turut Memperbesar Risiko

Risiko hipertensi pada usia muda juga dapat diperburuk oleh kebiasaan sehari-hari yang kurang sehat. Beberapa di antaranya adalah pola tidur yang tidak teratur, kurang berolahraga, pola makan yang tidak seimbang, serta kebiasaan merokok.

“Pola tidur berantakan, makan makanan karbo terlalu banyak, enggak pernah olahraga, terus habis itu dia ngerokok, ditambah ngerokok dan kopi. Kopi tok aman. Nah, kopi dikombinasi rokok, naik tuh simpatis. Dua kombinasi ini membuat tekanan anak-anak muda ini menjadi tekanan darahnya di atas rata-rata,” jelasnya.

Karena itu, menurut dr. Tirta, masyarakat perlu mulai memperhatikan kebiasaan sehari-hari dan melakukan pemeriksaan tekanan darah secara berkala.
Penting Memantau Tekanan Darah

Dr. Tirta juga mengingatkan pentingnya memahami angka tekanan darah, yakni sistolik dan diastolik. Ia menyebut tekanan darah sekitar 120/80 mmHg sebagai angka yang umum digunakan sebagai acuan normal.

“Tekanan darah normal tuh adalah 120 tuh sistoliknya, per 80 mmHg. Di bawah itu masih normal. Di bawah 100 itu hipotensi, bisa pingsan orangnya. Di atas 140 itu hipertensi stage 1,” tuturnya.

Namun, angka tekanan darah sebaiknya tidak menjadi satu-satunya dasar untuk menyimpulkan kondisi kesehatan seseorang. Hasil pengukuran perlu diperhatikan secara tepat dan, apabila menunjukkan angka tinggi secara berulang, sebaiknya dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan.

Sebagai langkah pencegahan, dr. Tirta mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menerapkan pola hidup yang lebih sehat.

“Jadi ubah gaya hidup, rajin olahraga, tidur teratur, dan kurangi stres kerja,” pungkasnya.

Reporter : Akha

Bagikan: f 𝕏 t

Berita Terbaru