Berita

Rupiah Melemah, SEMMI Ingatkan Ancaman Serius bagi Program Makan Bergizi Gratis

5 Juni 2026 2 bulan lalu
Bagikan: f 𝕏 t

JAKARTA, Gerbangberita.com – Pengurus pusat sarikat mahasiswa muslimin indonesia (SEMMI) telah mengkaji isu nasional yang sementara ini melanda indonesia yaitu Pergerakan nilai tukar Rupiah yang terus melemah terhadap Dolar Amerika Serikat menjadi tantangan serius bagi pelaksanaan program strategis nasional, Makan Bergizi Gratis (MBG). Penurunan nilai mata uang ini berpotensi menaikkan biaya operasional secara signifikan, serta mengancam daya jangkau dan kualitas layanan yang direncanakan.


Menurut muh. Imam perkasa selaku bendahara umum SEMMI mengatakan pemerintah saat ini akan dilema dengan kodisi saat ini melihat rupiah semakain melemah dan program MBG yang menghabiskan biaya yang luar biasa. yang ditemui disekertariatan PP SEMMI di jakarta barat , kamis (4/6/2026).


Berdasarkan data pasar keuangan, Rupiah belakangan ini bergerak di level yang cukup tertekan, menembus angka di atas Rp18.000 per Dolar AS. Kelemahan ini berdampak langsung pada struktur biaya program MBG kedepan, mengingat sebagian bahan baku pangan dan sarana penunjang produksi masih bergantung pada pasokan dari luar negeri.

Biaya Membengkak, Anggaran Terasa Terbatas


Ketika Rupiah melemah, harga bahan baku impor seperti gandum, kedelai, susu bubuk, serta berbagai jenis pakan ternak dan pupuk otomatis menjadi lebih mahal. Kenaikan harga ini akan langsung terasa di dapur-dapur umum yang menjadi pusat pengolahan makanan untuk program ini.

“Anggaran yang telah disiapkan sebesar Rp 268 triliun untuk tahun 2026 sebenarnya jumlah yang besar, namun kekuatan belinya sangat bergantung pada stabilitas nilai tukar. Jika Rupiah terus tertekan, dana yang sama jumlahnya akan bisa membeli barang dan jasa dalam jumlah yang lebih sedikit,” ungkap imam.

Kondisi ini menimbulkan dua risiko utama: pemerintah harus menambah alokasi dana agar standar gizi dan porsi makanan tetap terjaga, atau terpaksa menurunkan kualitas bahan baku serta mengurangi cakupan penerima manfaat—hal yang tentu bertentangan dengan tujuan awal program.

Rantai Pasok dan Kelangsungan Program Terancam


Tidak hanya biaya pengadaan, pelemahan Rupiah juga membebani para penyedia bahan baku dan pelaku usaha yang terlibat dalam rantai pasok MBG. Biaya produksi yang meningkat membuat mereka harus menaikkan harga jual, yang pada akhirnya kembali menambah beban bagi anggaran negara.

Jika tekanan nilai tukar berlangsung lama, dikhawatirkan akan muncul kesulitan dalam menjaga kelancaran distribusi dan ketersediaan pangan bergizi secara merata ke seluruh wilayah, terutama daerah yang masih mengandalkan pasokan dari luar atau impor.

Solusi: Andalkan Produk Lokal dan Efisiensi
Menghadapi ancaman ini, pemerintah dan pelaksana program dituntut untuk segera mengambil langkah strategis. Kunci utama agar program tetap berjalan berkelanjutan di tengah gejolak nilai tukar adalah dengan memaksimalkan penggunaan bahan pangan hasil pertanian dan peternakan dalam negeri.

“Semakin sedikit kita bergantung pada barang impor, semakin kebal program ini terhadap gejolak nilai tukar Rupiah. Selain itu, pengelolaan dana harus sangat ketat, transparan, dan efisien agar tidak ada satu rupiah pun yang terbuang sia-sia,” tambah imam tersebut.

Keberhasilan program Makan Bergizi Gratis kini tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran yang dikeluarkan, tetapi juga seberapa cermat kebijakan ini diselaraskan dengan kondisi ekonomi makro. Di persimpangan jalan antara kebijakan sosial dan kekuatan ekonomi, stabilitas Rupiah dan ketahanan pangan lokal menjadi penentu utama apakah janji gizi bagi jutaan anak dan warga ini dapat terwujud sepenuhnya.

Bagikan: f 𝕏 t

Berita Terbaru